mungkin sudah sampai eneg,kamu atau kalian dengar kata-kata dariku,"Silence is not Golden"
memangnya apa sih yang sampai membuat diam itu emas?
aku sendiri sangat setuju dengan filosofi,"diam adalah emas,emas itu kuning,kuning itu tahi => Diam itu Tahi"
Diam itu "memperbusuk" semuanya
Terserah penilaian orang seperti apa,mereka bilang aku cerewet,banyak omong,judes,bla bla bla,yang pasti aku gak suka "Diam"
Diam gak nyelesein masalah..
Kenyataannya "Diam Merusak Semuanya",dan sesuatu yang "Rusak" butuh waktu untuk memperbaikinya,bahkan bisa jadi Rusak selamanya,mau dibawa ke "tukang reparasi" manapun gak akan bisa kembali normal,RUSAK
Senin, 30 November 2009
Jumat, 14 Agustus 2009
aku dan "dialogku"
sendirian, aku duduk di ruang tamu,selesai membaca headline news dari koran Jawa Pos(yang lagi2,tentang teroris Top,Noordin M Top)dan ditemani secangkir teh hangat.
"Wwoww!!",sorakku dalam hati,merasakan teh hangat yg mengalir di tenggorokan.
Perasaan tenang dan nyaman,namun hanya sejenak. Tiba - tiba aku teringat suatu hal yang cukup dominan mengganggu pikiranku.
"gak ngerti deh"
"kok,cuman gitu?"
"memang seriusan?"
"apa?"
"bagaimana?"
"kenapa?"
"kapan?"
Banyak pertanyaan di dalam pikiranku.
Cukup bnyak dialog yang mengacu pada satu persoalan.
Dan entah kapan bakal ada yang menjadi "lawan" ku dalam menjawab pertanyaan tersebut hingga menjadi sebuah "dialog"
"Wwoww!!",sorakku dalam hati,merasakan teh hangat yg mengalir di tenggorokan.
Perasaan tenang dan nyaman,namun hanya sejenak. Tiba - tiba aku teringat suatu hal yang cukup dominan mengganggu pikiranku.
"gak ngerti deh"
"kok,cuman gitu?"
"memang seriusan?"
"apa?"
"bagaimana?"
"kenapa?"
"kapan?"
Banyak pertanyaan di dalam pikiranku.
Cukup bnyak dialog yang mengacu pada satu persoalan.
Dan entah kapan bakal ada yang menjadi "lawan" ku dalam menjawab pertanyaan tersebut hingga menjadi sebuah "dialog"
Kamis, 23 Juli 2009
"aku dan waktu sekarang.."
(dulu)
aku mengira bahwa keputusan untuk memilih melanjutkan study di UNPAD, bakal menyisakan sedikit kekecewaan dan penyesalan,
memang,
sejak menginjak bangku SMP, aku sudah memiliki cita - cita untuk melanjutkan S1 di UGM dengan jurusan HI atau Komunikasi
dengan semangat anak SMP yang selalu berkoar kesana kemari,
saya selalu mantap mengatakan bahwa "aku pasti akan meramaikan kampus UGM"
detik - detik menuju UAN SMA, dimana banyak orang tua bertanya mengenai kelanjutan studyku,
aku dengan (masih sangat) mantap berkata,"UGM S1"
UAS, UAN, praktikum, terlewat
dimulailah masa - masa dimana (lulusan) kelas XII berjuang demi masa depannya
"UGM", tekadku
UM UGM yang merupakan UM pertama yang zku ikuti merupakan jalan keluar untuk akudapat mewujudkan mimpi tersebut
dengan bermodalkan kepercayaan diri, aku pun mengikutinya
soal 1, soal ke2, soal ke3, dst..
bukan halangan yang dapat menghancurkan harapanku
walau keluar ruangan tidak dengan senyum yang memuaskan,
aku masih menyimpan harapan yang cukup tinggi
sehari, seminggu, sebulan kemudian..
PENGUMUMAN
dan nomorku tidak tercantum di dalamnya,
SHOCK, pasti
aku merasa hancur sudah semua mimpi yang aku bangun selama hampir enam tahun
tapi aku merasa masih memiliki kesempatan di saat SNMPTN nanti
(SNMPTN)
"BYAARR"
melihat jumlah penerimaan mahasiswa UGM melalui jalur SNMPTN, membuat aku yakin bahwa semua mimpi itu memang "hanyalah mimpi"
"S1 UGM, hanya MIMPI"
(sekarang)
Ilmu Komunikasi S1 Universitas Padjadjaran
dengan keyakinan dan nasihat dari "para sesepuh", sampailah aku di sini
universitas dimana ilmu komunikasinya (konon) merupakan yang terbaik se-Indonesia
sempat, aku merasa, ini bukanlah tempatku, aku salah berada di sini!!
keterpurukan tersebut cukup lama hinggap
sampai akhirnya aku sadar bahwa "berada di sini memang merupakan TAKDIR aku"
bukan "mau gimana lagi", tapi "harus bagaimana aku"
...
Langganan:
Komentar (Atom)

